Setelah sebelumnya bersinar dengan Gone Baby Gone dan The Town, Affleck kembali mencoba untuk menyita perhatian publik dengan Argo, film thriller politik berbasis kisah nyata. Tidak sia-sia, terbukti Affleck mampu membawa pulang Golden Globes sebagai best director walaupun masih belum mampu untuk masuk nominasi oscar.

Argo bercerita tentang Tony Mendez (Ben Affleck), seorang agen CIA yang berusaha untuk membebaskan 6 orang sandera korban pergolakan di Iran dengan menyamar sebagai seorang produser film yang sedang mencari lokasi untuk syuting.


Awalnya saya membayangkan bahwa Argo akan menjadi film thriller dengan nuansa yang sangat gelap, mengingat premise dan latar tempatnya. Tidak salah total memang, namun tidak segelap yang saya bayangkan. Beberapa black comedy disana-sini berhasil membuat saya tertawa kecil.

Opini pribadi, akting Affleck (yang toh akan meningkat di Gone Girl) masih terasa standar disini. Tidak terlalu jelek, namun tidak juga terlalu bagus. Yang pasti Affleck berhasil melakukan apa yang seharusnya memang dilakukan. Berbeda dengan Alan yang berhasil menggunakan Argo sebagai ajang untuk bersinar.


Untuk penyutradaraan, kemampuan Affleck terlihat jelas semakin berkembang. Kemampuannya semakin terasah dalam mengolah film thriller. Terbukti dengan adegan terakhir Argo, tidak perlu adegan kejar-kejaran antar kendaraan dengan kecepatan tinggi untuk menciptakan atmosfir yang menegangkan saat ditonton. Argo memang belum sempurna, namun mengingat ini baru film ke-3 darinya, menarik untuk melihat perkembangan Affleck selanjutnya. 

Argo adalah film thriller politik yang menghibur sekaligus menegangkan dengan dibalut sedikit komedi. Memang belum sempurna, tetapi Argo tetaplah film yang sayang untuk dilewatkan.
8.5/10