Adam Sandler bukanlah nama yang asing di telinga banyak orang. Namun sayangnya, dengan konotasi yang negatif. Jangan terlalu berharap lawan bicara anda menjadi antusias ketika diajak membicarakan tentang film terbaru Adam Sandler. Trust me, i spoke from my experience.
The Cobbler bercerita tentang Max Simkin (Adam Sandler), seorang ahli sepatu dengan hidup yang datar. Sampai suatu hari Max menyadari bahwa mesin tua yang berada di gudang tokonya memiliki kekuatan magis yang memungkinkan dia berubah menjadi pemilik sepatu yang dia perbaiki dengan mesin tersebut.
Looking good, right? Tidak perlu malu, saya sendiri juga sempat tertarik setelah membaca premisnya. Saya sempat berimajinasi ke segala arah membayangkan kemana film akan berlanjut, yang sayangnya dibalas dengan kecut. Jalan cerita malah berjalan ke arah yang tidak saya bayangkan, dan tidak saya inginkan.
Agak sulit menentukan tipe film apakah The Cobbler ini, komedi ataukah drama. Satu hal yang pasti, jangan harapkan bahwa anda akan menyaksikan suatu film komedi yang cerdas, atau drama-superhero yang menyenangkan untuk diikuti, karena The Cobbler bukan keduanya. Inconsistent tone plus jalan cerita yang hambar, itulah yang akan tersaji untuk anda. Oh, jangan lupakan komedi yang tidak menggelitik.
Memorable character? Lupakan. Bahkan Sandler sendiri terlihat jelas bermain dengan separuh hati. I'm not Sandler hater, no, beberapa filmnya masih ada yang saya nikmati. Namun kualitas akting Sandler disini jelas mengecewakan. Satu-satunya yang menarik perhatian saya di film ini hanya Steve Buscemi.
Keseluruhan, The Cobbler terasa seperti sesuatu yang sangat berantakan. Dijejalkan banyak subplot hambar dengan benang merah seadanya, kemudian ditambahkan karakter yang membosankan, itulah formula dari The Cobbler.
4/10
0 komentar:
Posting Komentar