Ego adalah satu hal yang sulit dilepaskan dari diri kita masing-masing. Ketika nama besar kita seketika jatuh, kita pasti berusaha untuk membangkitkannya kembali. Seperti yang ingin dilakukan oleh Riggan (Michael Keaton) di Birdman.

Nama Riggan dulu sempat terkenal berkat perannya sebagai karakter superhero Birdman. Ketika dunia mulai melupakannya, dia berusaha untuk kembali dengan memainkan pertunjukan teater yang ditulis dan disutradarainya sendiri. 

 

Setelah sempat tenggelam, baik Keaton maupun Norton berhasil menggunakan Birdman untuk membuktikan bahwa mereka belum mati. Terbukti dengan nominasi oscar untuk keduanya, walaupun belum mampu membawa pulang trofi. Aktor dan aktris lain, terutama Emma Stone, juga berhasil mengeluarkan kemampuan akting terbaik mereka.

Tak hanya di depan kamera, para kru di belakang kamera juga mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Terutama Emmanuel Lubezki (sinematografer), Stephen Mirrione dan Douglas Crise (editor) yang berhasil membuat film seolah-olah diambil secara one long shot.


Tak hanya dikedua hal tersebut, bagian-bagian lain di Birdman juga matang bagi saya pribadi. Berbagai dialog yang menggelitik dan quotes keren, musik yang walaupun keseluruhan hanya diisi dengan drum namun masuk dengan nuansa Birdman, dan cerita sederhana yang berhasil menjalar sampai ke ambiguitas mendukung Birdman untuk masuk ke daftar film terbaik 2014, atau bahkan sampai ke daftar film terbaik yang pernah saya saksikan.

Diantara banyak film yang saya saksikan, Birdman berhasil menjadi sesuatu yang berbeda dalam artian positif. Matang di berbagai aspek, menghibur dari awal sampai akhir, Birdman adalah jenis film yang jarang muncul. Berlebihan atau tidak, bagi saya Birdman adalah sebuah mahakarya sempurna.
10/10