Selasa, Mei 19, 2015

Dari berbagai sekuel, Avengers Age of Ultron bisa dikatakan menjadi salah satu yang memikul beban berat. Dengan hype yang sangat tinggi mengingat kesuksesan film pertamanya, Joss Whedon harus berusaha ekstra untuk memastikan Avengers AoU tidak jatuh.

Avengers AoU bercerita tentang bagaimana para Avengers harus sekali lagi berjuang mempertahankan keselamatan bumi yang terancam karena kehadiran Ultron, Artificial Intelligence yang tercipta karena kesalahan Tony Stark dan Bruce Banner.


Sekali lagi Joss Whedon menunjukkan kepiawaiannya mengolah adegan yang memanjakan mata, bahkan dari awal film. Selain itu, kejeniusan Whedon juga terlihat ketika ia mampu mengatur banyak karakter sehingga tetap terlihat rapi di Avengers AoU.

Hawkeye yang di film sebelumnya tidak terlalu banyak diumbar, sekarang memiliki waktu yang lebih banyak di depan kamera. Dari pengenalan latar belakang yang lebih mendalam sampai ke kemampuan bertarung yang kini lebih diperlihatkan, menyenangkan rasanya melihat karakter favorit saya Hawkeye memiliki adegan yang lebih banyak daripada film Avengers sebelumnya.


Sayang, drama dari karakter selain Hawkeye malah ada yang terasa hambar. Romansa antar Natasha Romanoff dan Bruce Banner yang muncul mendadak terasa datara, sehingga tidak menimbulkan kesan mendalam saat di akhir film.

Selain itu, hal lain yang disayangkan adalah Ultron. Tidak jelek memang, namun tidak sesuai harapan. Sempat digadang-gadang menjadi salah satu villain terkuat, Ultron malah berakhir menjadi sesuatu yang tidak terasa menakutkan sama sekali. Tidak jelek, namun tidak terlalu bagus. Ultron hanya jatuh menjadi villain yang biasa.

Bagi saya pribadi, Avengers AoU belum mampu menjawab ekspektasi saya yang mungkin terlalu tinggi. Meskipun begitu, hanya menurun sedikit dari film sebelumnya tetap merupakan hal yang patut diapresiasi, mengingat seberapa tingginya kesuksesan The Avengers. 
9/10

Posted on Selasa, Mei 19, 2015 by Unknown

No comments


Vampire bisa dikatakan sebagai sesuatu yang jarang muncul sekarang di dunia perfilman, kalah pamor dengan zombie. Disaat keringnya film vampire berkualitas atau bahkan film vampire itu sendiri, What We Do in the Shadows muncul.

Dengan ala dokumenter, What We Do in the Shadows bercerita tentang para vampire yang hidup di dunia modern. Bagaimana mereka berbaur, tinggal satu rumah, mengundang orang untuk dimangsa, dan sebagainya.



Segar dan orisinil adalah kesan pertama yang saya rasakan seusai menonton. Baik vampire maupun mockumenter, keduanya adalah dua hal yang jarang muncul, apalagi sampai disatukan. What We Do in the Shadows terhitung sukses menggabungkan keduanya.

Film mockumenter vampire, tentu memiliki banyak hal-hal yang dapat digali untuk mengundang tawa penonton. Dan sekali lagi, What We Do in the Shadows berhasil menggunakan sumber daya yang melimpah tersebut. Entah dari apa yang para vampire lakukan, atau apa yang para vampire katakan, What We Do in the Shadows secara konsisten sukses mengocok perut saya.



Jujur, saya tak tahu-menahu tentang film ini sebelumnya. Melihat trailer ataupun sinopsis pun tidak. Hanya berbekal dengan rasa penasaran dan rekomendasi dari teman, What We Do in the Shadows secara mengejutkan menjadi sesuatu yang saya nikmati.

Meskipun belum dapat diberi nilai sempurna, What We Do in the Shadows berhasil membuktikan diri sebagai film yang menghibur namun sayang kurang mendapat perhatian. Tak ragu, What We Do in the Shadows masuk ke daftar film komedi favorit saya.
9/10  

Posted on Selasa, Mei 19, 2015 by Unknown

No comments

Rabu, Mei 06, 2015


Ego adalah satu hal yang sulit dilepaskan dari diri kita masing-masing. Ketika nama besar kita seketika jatuh, kita pasti berusaha untuk membangkitkannya kembali. Seperti yang ingin dilakukan oleh Riggan (Michael Keaton) di Birdman.

Nama Riggan dulu sempat terkenal berkat perannya sebagai karakter superhero Birdman. Ketika dunia mulai melupakannya, dia berusaha untuk kembali dengan memainkan pertunjukan teater yang ditulis dan disutradarainya sendiri. 

 

Setelah sempat tenggelam, baik Keaton maupun Norton berhasil menggunakan Birdman untuk membuktikan bahwa mereka belum mati. Terbukti dengan nominasi oscar untuk keduanya, walaupun belum mampu membawa pulang trofi. Aktor dan aktris lain, terutama Emma Stone, juga berhasil mengeluarkan kemampuan akting terbaik mereka.

Tak hanya di depan kamera, para kru di belakang kamera juga mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Terutama Emmanuel Lubezki (sinematografer), Stephen Mirrione dan Douglas Crise (editor) yang berhasil membuat film seolah-olah diambil secara one long shot.


Tak hanya dikedua hal tersebut, bagian-bagian lain di Birdman juga matang bagi saya pribadi. Berbagai dialog yang menggelitik dan quotes keren, musik yang walaupun keseluruhan hanya diisi dengan drum namun masuk dengan nuansa Birdman, dan cerita sederhana yang berhasil menjalar sampai ke ambiguitas mendukung Birdman untuk masuk ke daftar film terbaik 2014, atau bahkan sampai ke daftar film terbaik yang pernah saya saksikan.

Diantara banyak film yang saya saksikan, Birdman berhasil menjadi sesuatu yang berbeda dalam artian positif. Matang di berbagai aspek, menghibur dari awal sampai akhir, Birdman adalah jenis film yang jarang muncul. Berlebihan atau tidak, bagi saya Birdman adalah sebuah mahakarya sempurna.
10/10

Posted on Rabu, Mei 06, 2015 by Unknown

No comments